Pendidikan -->

Kamis, 02 April 2026

Guru Menumpuk di Satu Titik, Bupati Soppeng Minta Penataan Segera


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Rembuk Pendidikan Kabupaten Soppeng memasuki hari kedua dengan fokus utama pada persoalan pemetaan serta distribusi tenaga pendidik, Kamis (2/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Soppeng ini menjadi forum strategis untuk membahas berbagai tantangan pendidikan di daerah, khususnya terkait pemerataan guru.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan bersama Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng, dan dihadiri langsung oleh Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng.

Hadir pula para kepala sekolah tingkat sekolah menengah pertama (SMP) se-Kabupaten Soppeng serta kepala sekolah dasar (SD) dari sejumlah kecamatan, di antaranya Liliriaja, Donri-Donri, Citta, dan Lalabata.

Pada hari kedua pelaksanaan, diskusi semakin mengerucut pada persoalan distribusi guru yang dinilai belum merata. Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng, Dr. Nur Alim, dalam pemaparannya menegaskan bahwa salah satu persoalan krusial pendidikan di daerah saat ini adalah ketidakseimbangan jumlah guru antar satuan pendidikan.

Menurutnya, masih terdapat sekolah yang mengalami kelebihan tenaga pengajar, sementara di sisi lain tidak sedikit sekolah yang justru kekurangan guru.

Kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap efektivitas proses belajar mengajar di kelas.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng, Dr. Nurmal Idrus, mengungkapkan data terbaru yang menunjukkan adanya kelebihan sekitar 130 guru di Kabupaten Soppeng. Namun ironisnya, di beberapa wilayah tertentu masih terjadi kekurangan tenaga pendidik.

“Ketimpangan ini tentu menjadi masalah serius. Di satu sisi ada sekolah yang kelebihan guru, sementara di sisi lain ada sekolah yang kekurangan. Ini berdampak pada kualitas layanan pendidikan yang diterima siswa,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketidakseimbangan tersebut tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi juga pada guru itu sendiri, terutama dalam hal beban kerja dan pemenuhan jam mengajar.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, dalam arahannya menegaskan bahwa persoalan distribusi guru tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah daerah, kata dia, akan mengambil langkah konkret melalui pemetaan kebutuhan guru secara berkala.

“Penumpukan guru di satu tempat sementara di tempat lain kekurangan harus segera diatasi. Jika terjadi kelebihan, maka ada guru yang tidak memenuhi jam mengajar, sehingga berpotensi tidak mendapatkan sertifikasi. Ini tentu berdampak pada kesejahteraan dan pendapatan guru itu sendiri,” tegasnya.

Bupati juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan para tenaga pendidik dalam mencari solusi terbaik terhadap persoalan tersebut. Ia memastikan bahwa hasil dari rembuk pendidikan ini akan menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan ke depan.

Selain itu, Bupati Suwardi menilai bahwa kegiatan rembuk pendidikan memiliki peran penting sebagai wadah komunikasi antara pemerintah dan para guru di lapangan. Melalui forum ini, berbagai persoalan yang dihadapi dapat disampaikan secara langsung dan terbuka.

“Rembuk seperti ini sangat bermanfaat karena mampu mengurangi kesenjangan informasi antara pemerintah daerah dan para guru. Dengan komunikasi yang baik, kita bisa merumuskan solusi yang lebih tepat sasaran,” ujarnya.

Di akhir kegiatan, seluruh hasil diskusi dan masukan dari peserta rembuk pendidikan akan dirangkum menjadi rekomendasi resmi oleh Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng. Rekomendasi tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada pihak terkait sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih efektif dan merata di masa mendatang.

Dengan adanya langkah konkret dan komitmen dari pemerintah daerah, diharapkan persoalan distribusi guru di Kabupaten Soppeng dapat segera teratasi, sehingga kualitas pendidikan di daerah tersebut semakin meningkat secara merata.

(Silviana Eliza)

Selasa, 31 Maret 2026

Distribusi Tenaga Pendidik Belum Merata, KKG Lalabata Bahas Solusi


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Isu pemerataan tenaga pendidik kembali menjadi perhatian utama dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 3 Kecamatan Lalabata yang dilaksanakan di SD Negeri 25 Madello, Selasa (31/3/2026).

Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah peningkatan kompetensi guru, tetapi juga menjadi ruang refleksi terhadap kondisi nyata dunia pendidikan, khususnya terkait distribusi tenaga pendidik yang hingga kini masih belum merata.

Sekitar 100 peserta turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 18 kepala sekolah dari seluruh satuan pendidikan di Gugus 3, delapan guru perwakilan dari masing-masing sekolah, serta pengawas gugus. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menunjukkan komitmen bersama dalam membahas persoalan strategis pendidikan.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng, Nurmal Idrus, dalam arahannya menegaskan bahwa ketimpangan distribusi guru masih menjadi tantangan serius yang perlu segera ditangani.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini masih terdapat sekolah yang mengalami kelebihan tenaga pendidik, sementara sekolah lainnya justru kekurangan guru, bahkan pada mata pelajaran tertentu belum memiliki tenaga pengajar yang memadai.

“Masih ada sekolah yang kelebihan guru, sementara di tempat lain kekurangan. Kondisi ini berdampak langsung pada beban kerja guru dan kualitas hasil belajar siswa,” ujarnya.

Menurut Nurmal, ketidakseimbangan tersebut menyebabkan sebagian guru harus mengajar melebihi beban ideal, sementara di sisi lain ada guru yang belum dapat menjalankan tugas secara optimal. Hal ini dinilai memengaruhi efektivitas proses pembelajaran secara keseluruhan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penataan sumber daya manusia (SDM) di bidang pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah tenaga pendidik yang tersedia. Penempatan guru, kata dia, harus disesuaikan dengan kebutuhan riil setiap sekolah.

Beberapa faktor yang perlu menjadi pertimbangan antara lain jumlah rombongan belajar (rombel), rasio guru dan siswa, serta kondisi geografis dan aksesibilitas wilayah sekolah. Sekolah yang berada di daerah terpencil, menurutnya, harus mendapatkan perhatian khusus.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kesesuaian antara bidang ajar dengan latar belakang pendidikan guru. Linearitas dinilai penting agar kualitas pembelajaran dapat lebih terjamin.

“Pemerataan guru bukan hanya soal jumlah, tetapi bagaimana setiap kelas diisi oleh tenaga pendidik yang tepat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nurmal juga menyinggung pentingnya memperhatikan distribusi guru berdasarkan status kepegawaian, baik Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun non-ASN, serta kebutuhan spesifik masing-masing sekolah terhadap mata pelajaran tertentu.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng, Andi Muhammad Zulkarnain, yang mendampingi jalannya forum hingga selesai.

Forum KKG Gugus 3 Lalabata ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menyamakan persepsi antara kepala sekolah dan guru terkait pentingnya penataan SDM pendidikan yang lebih adil dan proporsional.

Selain itu, hasil diskusi yang berkembang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pendidikan ke depan.

Dengan distribusi tenaga pendidik yang lebih merata, diharapkan kualitas pendidikan di Kabupaten Soppeng dapat meningkat secara menyeluruh, sehingga setiap siswa mendapatkan layanan pendidikan yang optimal tanpa terkecuali.

(Silviana)

Minggu, 22 Maret 2026

Reuni Akbar IKA SMPN 3 Palopo 2026, Dari Nostalgia Menuju Transformasi Digital Alumni


Palopo, Teropongsulawesi.com, Gedung Saodenrae menjadi saksi pertemuan lintas generasi yang bukan sekadar temu kangen, tetapi juga menandai babak baru perjalanan organisasi alumni. Minggu (22/3/2026).

Ratusan alumni dari berbagai angkatan memadati ruangan dalam gelaran Reuni Akbar Ikatan Alumni (IKA) SMPN 3 Kota Palopo, menghadirkan suasana haru, hangat, dan penuh makna.

Namun, reuni kali ini terasa berbeda. Di tengah canda, pelukan, dan kilas balik kenangan masa sekolah, terselip semangat besar untuk membawa organisasi alumni melangkah lebih jauh ke masa depan.

Dalam forum yang berlangsung dinamis dan penuh partisipasi, nama Andi Taufiq Aris (ATA) kembali mengemuka sebagai figur sentral.

Melalui kesepakatan mayoritas peserta, ia kembali dipercaya untuk memimpin IKA SMPN 3 Palopo.

Keputusan ini bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan refleksi dari kepercayaan kolektif alumni terhadap kepemimpinan yang telah terbukti menjaga soliditas dan semangat kebersamaan lintas generasi.

ATA dinilai mampu menjadi jembatan antara masa lalu yang penuh kenangan dan masa depan yang menuntut inovasi.

Dalam sambutannya, ATA menegaskan bahwa organisasi alumni tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama. Ia menggarisbawahi pentingnya transformasi digital sebagai kunci utama agar IKA tetap relevan di era modern.

“Organisasi alumni hari ini harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pertemuan fisik, tetapi juga harus hadir secara digital,” ujarnya.

Ke depan, IKA SMPN 3 Palopo diharapkan tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga berkembang menjadi Platform jejaring profesional alumni,
Ruang kolaborasi lintas generasi, Ekosistem berbagi peluang dan kontribusi sosial

Salah satu gagasan paling menonjol adalah dorongan kuat terhadap regenerasi kepemimpinan.

ATA secara terbuka mengajak generasi muda untuk mengambil peran strategis dalam organisasi.

Ia bahkan mendorong agar posisi Ketua Harian ke depan diisi oleh alumni dari angkatan muda, khususnya tahun 2000 ke bawah.

Menurutnya, generasi muda memiliki keunggulan yang sangat dibutuhkan yang Lebih adaptif terhadap teknologi,
Kreatif dalam mengemas kegiatan dan Cepat merespons perubahan tren.

“Untuk membesarkan organisasi ini, kita butuh energi baru. Generasi muda adalah kunci untuk membawa IKA ke level berikutnya,” tegasnya.

Tidak hanya soal struktur organisasi, ATA juga menyoroti pentingnya perubahan dalam pola pelaksanaan kegiatan, termasuk reuni itu sendiri.

Ia mendorong agar kepanitiaan kegiatan ke depan lebih banyak melibatkan generasi muda, ssehingg Konsep acara menjadi lebih segar, Partisipasi alumni meningkat, Kegiatan lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

“Reuni tidak boleh stagnan. Harus terus berkembang agar tetap menarik dan bermakna,” tambahnya.

Di balik semua gagasan modernisasi, satu nilai tetap menjadi fondasi utama : kebersamaan tanpa sekat.

ATA mengajak seluruh alumni untuk meninggalkan batasan-batasan yang selama ini mungkin masih terasa, baik antar angkatan maupun latar belakang.

“Reuni ini bukan tentang siapa kita sekarang, tetapi tentang siapa kita dulu dan bagaimana kita tetap terhubung,” ujarnya penuh makna.

Sepanjang acara, suasana kehangatan terasa begitu kuat. Tawa, cerita lama, dan momen kebersamaan mengalir tanpa henti. Banyak alumni yang memanfaatkan kesempatan ini untuk Mempererat kembali hubungan lama, Membangun koneksi baru dan Mengabadikan momen berharga.

Reuni ini pun menjadi simbol bahwa ikatan yang terjalin di bangku sekolah tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu waktu untuk kembali dipererat.

Dengan semangat baru yang diusung, IKA SMPN 3 Palopo kini mengarah pada peran yang lebih luas. Tidak hanya sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga sebagai Motor penggerak kolaborasi alumni, Kontributor bagi masyarakat dan sebagai Mitra dalam pembangunan daerah.

Reuni Akbar 2026 bukanlah akhir dari sebuah pertemuan, melainkan awal dari perjalanan baru menuju organisasi alumni yang lebih solid, inklusif, dan relevan di era digital.

(Red)

Senin, 09 Maret 2026

Bukber Intelektual di Pasar Ramadan: Siswa English Course Sanggar Masumange SDN 7 Salotungo Rayakan Ramadan dengan Spirit Learning


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Ramadan tidak selalu harus dibaca hanya sebagai ritual puasa dan berbuka. Dalam ruang yang lebih luas, Ramadan juga dapat menjadi laboratorium pembelajaran kehidupan—tempat nilai spiritual, kebersamaan, dan intelektualitas bertemu dalam satu momentum yang sederhana.

Inilah yang tergambar dalam kegiatan Buka Puasa Bersama (Bukber) yang digelar oleh para siswa Kursus Bahasa Inggris Sanggar Masumange SDN 7 Salotungo di kawasan Pasar Ramadan. Di tengah keramaian pedagang, aroma makanan berbuka, dan hiruk-pikuk masyarakat, para siswa justru menghadirkan suasana belajar yang berbeda: learning in real social context.

Kegiatan ini didampingi langsung oleh mentor mereka, Miss Kiky, yang memandang bahwa pembelajaran bahasa seharusnya tidak selalu terkurung di ruang kelas.

Menurutnya, kemampuan bahasa akan tumbuh lebih hidup ketika siswa berinteraksi langsung dengan realitas sosial.

“Language grows through experience. When students speak, observe, and interact in real situations, their confidence naturally develops,” ujarnya.

Bukber tersebut dihadiri oleh sejumlah siswa yang selama ini aktif mengikuti kursus bahasa Inggris di Sanggar Masumange, yakni:

A. Rania Mallarangeng

Aisyah Kayla Bilqis

Wereati Tuppuricinna

Nur Fadillah

Attiya Amira Azzahrah

Jihan Talita Ulfa

Arinda Nur Maulidya

Menariknya, selama kegiatan berlangsung para siswa tidak hanya berbincang santai, tetapi juga mencoba mempraktikkan percakapan bahasa Inggris sederhana sambil mengamati berbagai aktivitas di Pasar Ramadan. Mereka belajar menyebut nama makanan, mengekspresikan perasaan, hingga berbagi cerita dalam bahasa yang sedang mereka pelajari.

Pendekatan seperti ini dalam dunia pendidikan modern sering disebut sebagai contextual learning, yakni pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata.

Bagi para siswa SDN 7 Salotungo, pengalaman kecil ini memiliki makna besar. Mereka belajar bahwa bahasa bukan sekadar mata pelajaran, tetapi alat untuk memahami dunia.

Salah seorang peserta, A. Rania Mallarangeng, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan tersebut.

“Belajar bahasa Inggris di luar kelas terasa lebih menyenangkan. Kita bisa langsung mencoba berbicara dan saling membantu,” ujarnya.

Kegiatan sederhana ini sekaligus menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak selalu memerlukan panggung besar. Kadang-kadang, ruang belajar terbaik justru hadir di tengah kehidupan sehari-hari.

Melalui Sanggar Masumange, para siswa SDN 7 Salotungo sedang diperkenalkan pada cara belajar yang lebih luas: belajar berpikir, belajar berkomunikasi, dan belajar membangun kepercayaan diri sejak usia dini.

Di tengah suasana Ramadan yang penuh keberkahan, kegiatan bukber ini menjadi simbol kecil bahwa ilmu, persahabatan, dan spiritualitas dapat tumbuh bersama.

Dan dari pertemuan sederhana di Pasar Ramadan itu, satu pesan pendidikan kembali ditegaskan:

Great learning often begins from simple moments shared together.

(Red) 

Kamis, 12 Februari 2026

SDN 7 Salotungo Bersholawat, Pengawas Gugus 1: Perkuat Karakter dan Ketenangan Jiwa Peserta Didik


Soppeng, Teropongsulawesi.com,nSD Negeri 7 Salotungo kembali menghadirkan nuansa religius di lingkungan pendidikan melalui kegiatan Bersholawat Bersama yang dilaksanakan pada Kamis (12/2/2026) pukul 07.30 WITA di halaman sekolah. 

Kegiatan ini digelar dalam rangka menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ï·º serta menghadirkan ketenangan jiwa bagi seluruh warga sekolah.

Peserta didik Muslim dan Muslimah tampak mengenakan busana muslim, sementara peserta didik non-Muslim hadir dengan pakaian rapi dan sopan sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan. Seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan kompak mengenakan busana muslim warna putih.

Sholawat yang dilantunkan adalah “Shalat Ya Rasulullah, Salamun ‘Alaikum” karya KH. Zaini Abdul Gani Al Banjari (Abah Guru Sekumpul/Guru Ijai). 

Lantunan sholawat dipandu langsung oleh Kepala SDN 7 Salotungo, menghadirkan suasana khidmat dan penuh keteduhan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pengawas Pendamping Satuan Pendidikan Gugus 1 Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng, Drs. Sudirman, S. Sis, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng H. AM. Zulkarnain, serta Korwil UPTD Kecamatan Lalabata Drs. Jamal, M. Si.

Dalam sambutannya, Drs. Sudirman, S. Sis menyampaikan apresiasi atas konsistensi SDN 7 Salotungo dalam mengintegrasikan pendidikan karakter dan spiritual ke dalam budaya sekolah.

“Sekolah yang hebat bukan hanya melahirkan anak-anak cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa yang tenang, berakhlak mulia, dan cinta kepada Rasulullah ï·º. Kegiatan seperti ini adalah pondasi penting dalam membentuk generasi yang kuat secara moral dan spiritual,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai religius di sekolah menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang harmonis, humanis, dan berkarakter.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Pendidikan H. AM. Zulkarnain menyampaikan bahwa sholawat adalah energi positif yang mampu menumbuhkan persaudaraan dan mempererat kebersamaan di lingkungan sekolah. 

Korwil UPTD Kecamatan Lalabata, Drs. Jamal, M. Si, turut memberikan dukungan dan berharap kegiatan serupa terus menjadi budaya yang mengakar.

Kegiatan diiniaiasi oleh Guru Pendidikan Agama Islam, Muh. Alwi Basri, S. Pd, Nur Hidayah, S. Pd I, dan Saudit Rizaldi, S. Pd I. Doa bersama menutup rangkaian acara dengan harapan agar lantunan sholawat menjadi wasilah turunnya rahmat, menyejukkan hati, serta menguatkan akhlak seluruh warga sekolah.

Melalui kegiatan Bersholawat ini, SDN 7 Salotungo kembali meneguhkan komitmennya sebagai satuan pendidikan yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan spiritual demi terwujudnya generasi yang unggul dan berakhlakul karimah. (**) 

Jumat, 30 Januari 2026

UKM Seni Budaya eSA UIN Alauddin Makassar Tetapkan Kepengurusan Periode 2026


Makassar Teropongsulawesi.com, Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya eSA Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar resmi dikukuhkan untuk periode kepengurusan 2026.

Pengukuhan tersebut berlangsung pada Kamis (29/1/2026) dan dihadiri oleh berbagai elemen lembaga kemahasiswaan serta komunitas seni di Kota Makassar.

Kegiatan pengukuhan dilaksanakan di tengah kondisi keterbatasan ruang berekspresi yang masih dirasakan mahasiswa, khususnya pelaku seni di lingkungan kampus UIN Alauddin Makassar.

Meski demikian, acara berlangsung khidmat dan menjadi momentum konsolidasi bagi pengurus baru UKM Seni Budaya eSA.

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan lembaga kemahasiswaan se-UIN Alauddin Makassar serta Pekerja Seni Kampus (PSK) se-Kota Makassar.

Kehadiran berbagai unsur ini mencerminkan kuatnya jejaring solidaritas antar organisasi mahasiswa dan komunitas seni dalam memperjuangkan ruang kreativitas di lingkungan perguruan tinggi.

Ketua UKM Seni Budaya eSA terpilih, Muhammad Idil Fitrah, dalam sambutannya menyampaikan komitmennya untuk menjadikan eSA sebagai ruang berkarya yang aktif, produktif, dan berkelanjutan bagi mahasiswa.

Ia menegaskan bahwa seni tidak hanya berkaitan dengan hasil pertunjukan, tetapi juga merupakan proses panjang yang membutuhkan ruang, waktu, dan dukungan yang memadai.

“UKM Seni Budaya eSA harus tetap menjadi ruang berproses bagi anggotanya. Seni tidak lahir secara instan, melainkan membutuhkan kontinuitas, kebebasan berekspresi, serta ruang yang memadai,” ujar Idil.

Idil juga menyoroti minimnya perhatian birokrasi kampus terhadap pengembangan kreativitas mahasiswa, khususnya di bidang seni.

Menurutnya, keterbatasan fasilitas kesenian serta kebijakan pembatasan jam malam berdampak langsung terhadap aktivitas latihan dan proses berkesenian mahasiswa.

Ia menilai, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan aktivitas seni di lingkungan kampus.

Kendatii demikian, pengurus baru eSA berkomitmen untuk tetap aktif berkarya dan menjadikan keterbatasan tersebut sebagai pemicu untuk memperkuat solidaritas dan kerja kolektif.

Lebih lanjut, Idil menegaskan bahwa pengukuhan pengurus baru UKM Seni Budaya eSA harus dimaknai sebagai awal konsolidasi gerakan kebudayaan di lingkungan kampus.

Ia menyampaikan bahwa eSA tidak hanya berperan sebagai wadah seni, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap kebijakan kampus.

“Pengurus UKM Seni Budaya eSA tidak hanya berkomitmen untuk berkarya, tetapi juga mengajak seluruh lembaga mahasiswa di UIN Alauddin Makassar untuk berkolaborasi dan bersatu memperjuangkan ruang berekspresi serta fasilitas kesenian yang layak,” tegasnya.

Menurut Idil, perjuangan menghadirkan ruang dan fasilitas kesenian tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu UKM saja, namun diperlukan kekuatan kolektif dari seluruh lembaga kemahasiswaan agar aspirasi tersebut dapat tersampaikan secara efektif kepada pihak birokrasi kampus, jelasnya.

Ia berharap, pihak kampus dapat membuka ruang dialog yang serius dan berpihak pada pengembangan minat dan bakat mahasiswa.

Menurutnya, kampus idealnya tidak hanya menjadi pusat aktivitas akademik, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kebudayaan, kreativitas, dan daya kritis mahasiswa.

“Tanpa ruang dan fasilitas yang memadai, kreativitas mahasiswa hanya akan menjadi wacana,” tambahnya.

Melalui momentum pengukuhan ini, UKM Seni Budaya eSA menegaskan posisinya sebagai wadah seni sekaligus bagian dari gerakan mahasiswa yang kritis dan progresif.

Dengan kolaborasi lintas lembaga, eSA berharap perjuangan menghadirkan ruang berekspresi dan fasilitas kesenian yang layak dapat menjadi agenda bersama demi kemajuan UIN Alauddin Makassar.

(Red)

© Copyright 2019 TEROPONG SULAWESI | All Right Reserved