TEROPONG SULAWESI -->

Halaman

Daerah

Ads

Postingan Populer

Nasional

Kesehatan

Internasional

Arsip Blog

TOP NEWS

Jumat, 28 Agustus 2026

Maulid di Pattojo Jadi Momentum, Kapolsek Liliriaja Ingatkan Warga Soal Bahaya Kebakaran


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 Masehi di Masjid Raudhatul Muttaqin Dabbare, Desa Pattojo, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, Jumat (28/8/2026), tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi warga.

Kapolsek Liliriaja AKP Mahmuddin, A.Md., S.Sos., memanfaatkan momentum tersebut untuk mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di tengah musim kemarau.

Mahmuddin secara khusus meminta warga tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, kondisi lingkungan yang kering membuat api lebih mudah menjalar dan berpotensi menimbulkan kebakaran yang sulit dikendalikan.

Pesan itu disampaikan Mahmuddin setelah mengikuti rangkaian Maulid Nabi yang mengusung tema “Rajut Silaturahmi, Tebar Kepedulian, Tingkatkan Kebersamaan.”

Ia juga memperkenalkan diri sebagai pejabat baru yang memimpin Polsek Liliriaja. Sebelumnya, Mahmuddin pernah menjabat sebagai Kapolsek Lalabata dan Kasat Intelkam Polres Soppeng.

Dalam penyampaiannya, Mahmuddin menegaskan bahwa pencegahan kebakaran bukan semata-mata tugas aparat. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk memastikan tidak ada aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api.

Selain larangan membakar lahan, warga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di lokasi yang terdapat rumput kering, semak maupun material yang mudah terbakar.

“Jangan membuka lahan dengan cara membakar,” menjadi salah satu penekanan Kapolsek Liliriaja kepada masyarakat.

Mahmuddin juga meminta warga tidak menunggu api membesar untuk bertindak. Jika menemukan adanya titik api atau kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada aparat maupun pihak berwenang agar dapat ditangani secepat mungkin.

Menurutnya, laporan yang cepat dapat menjadi langkah awal untuk mencegah api meluas dan mengurangi risiko kerugian yang lebih besar.

Peringatan tersebut dinilai penting mengingat sejumlah wilayah di Soppeng dalam beberapa waktu terakhir menghadapi ancaman kebakaran lahan akibat kondisi cuaca yang kering.

Sementara itu, hikmah Maulid disampaikan Al Ustadz Sudarmin Pattola Palallo, S.Pd.I. Kegiatan tersebut dihadiri tokoh agama, tokoh masyarakat, majelis taklim dan jamaah Masjid Raudhatul Muttaqin Dabbare.

Turut hadir Camat Liliriaja Andi Lukman Saransi, S.Sos., MM., Danramil 1423-04/Liliriaja, Kepala KUA Kecamatan Liliriaja Ahlidin, S.Ag., M.A., Kepala Desa Pattojo, Ketua BPD Desa Pattojo bersama anggota, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, majelis taklim se-Desa Pattojo serta jamaah Masjid Raudhatul Muttaqin Dabbare.

(Taggi)

TORA Soppeng Mulai Bergerak, Bupati Suwardi Haseng Soroti Kesiapan Data di Desa


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Jangan sampai persoalan data menghambat program penataan kawasan hutan dan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) di Kabupaten Soppeng.

Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng meminta pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan yang masuk dalam sasaran inventarisasi dan verifikasi TORA segera mempersiapkan seluruh data yang diperlukan.

Permintaan itu disampaikan Suwardi saat membuka Sosialisasi dan Pendataan Awal Kegiatan Inventarisasi dan Verifikasi Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Rangka Penataan Kawasan Hutan dan Tanah Objek Reforma Agraria di Ruang Rapat Triple 8 The Riverside Resort, Watansoppeng, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah VII tersebut menjadi tahapan awal dalam pelaksanaan program yang masuk dalam Prioritas Nasional.

Suwardi menegaskan, aparat pemerintah di wilayah sasaran harus memahami tugas masing-masing. Tidak hanya hadir dalam sosialisasi, tetapi juga memastikan data yang diperlukan tersedia dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Siapkan data dan diri untuk mengikuti proses ini dengan baik. Aparat di kecamatan, desa dan kelurahan harus memahami apa yang harus disiapkan sehingga proses inventarisasi dapat berjalan dengan baik,” kata Suwardi.

Inventarisasi dan verifikasi dilakukan sebagai bagian dari penyelesaian penguasaan tanah dalam rangka penataan kawasan hutan dan TORA.

Dalam proses tersebut, data dari tingkat kecamatan hingga desa dan kelurahan menjadi penting karena menjadi dasar dalam tahapan inventarisasi serta verifikasi di lapangan.

BPKH Wilayah VII memberikan pemaparan mengenai teknis pelaksanaan, termasuk kebijakan PPTPKH, mekanisme pengajuan permohonan hingga pengisian formulir dan kelengkapan dokumen pendukung.

Peserta juga diberi ruang untuk berdiskusi melalui sesi coaching clinic. Melalui forum tersebut, berbagai persoalan teknis terkait tahapan kegiatan dan dokumen yang harus disiapkan dapat dikonsultasikan secara langsung.

Untuk tahap awal, kegiatan menyasar Kecamatan Citta dan Desa Citta, Kecamatan Donri-Donri dan Desa Pesse, serta Kecamatan Marioriwawo dan Kelurahan Tettikenrarae.

Pelaksanaan inventarisasi dan verifikasi tersebut mengacu pada Peta Indikatif PPTPKH TORA berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 2216 Tahun 2026.

Keterlibatan berbagai instansi menjadi bagian dari proses koordinasi. Selain BPKH Wilayah VII dan pemerintah kecamatan, desa serta kelurahan, kegiatan juga melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Soppeng, Kantor Pertanahan Kabupaten Soppeng, UPTD KPH Walanae dan unsur pemerintah provinsi.

Suwardi menempatkan kesiapan aparat dan data sebagai bagian penting dalam keberhasilan tahapan awal program TORA.

Dengan data yang lengkap dan koordinasi yang berjalan, proses inventarisasi dan verifikasi diharapkan dapat dilaksanakan secara lebih tertib dan sesuai ketentuan.

Program ini kini memasuki tahap pendataan awal. Pemerintah di tingkat kecamatan, desa dan kelurahan yang masuk sasaran pun diminta segera memastikan kebutuhan data dan dokumen telah dipersiapkan sebelum proses berlanjut ke tahapan berikutnya.

(Taggi)

Kamis, 27 Agustus 2026

Hangatnya Ultah ke-51 Andi Jumawi di Warkop Olleng, Ada Palekko hingga Doa dari Sahabat


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Ada yang berbeda di Warkop Olleng, Kamis (27/8/2026) malam. Suasana yang biasanya dipenuhi obrolan dan aktivitas ngopi berubah menjadi momen penuh keakraban ketika komunitas, sahabat, dan kerabat berkumpul memberikan kejutan sederhana untuk Ketua PWI Soppeng, Andi Jumawi, yang genap berusia 51 tahun.

Tak ada kemewahan dalam perayaan tersebut. Hanya kebersamaan, tawa, doa, serta sajian makanan khas yang membuat suasana semakin hangat.

Sejumlah anggota PWI Soppeng hadir memberikan ucapan selamat kepada Andi Jumawi. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan sekaligus memperlihatkan kuatnya hubungan kekeluargaan di antara sesama insan pers.

Ketua IWO Soppeng, Andi Mull Makmun, turut hadir. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang mempererat silaturahmi dan sinergi antarmedia di Kabupaten Soppeng.

Pemilik Warkop Olleng, H. Olleng, mewakili komunitas Warkop Olleng turut menyampaikan ucapan selamat.

Ia mendoakan agar Andi Jumawi selalu diberikan kesehatan, umur panjang dan kesuksesan dalam menjalankan amanah sebagai Ketua PWI Soppeng.

Suasana semakin hangat ketika Andi Jumawi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para sahabat yang telah memberikan perhatian di hari ulang tahunnya.

“Terima kasih banyak untuk seluruh sahabat di Warkop Olleng, kerabat PWI, IWO, dan Saudara H. Olleng. Kebersamaan dan kesederhanaan seperti inilah yang menjadi energi luar biasa bagi saya. Semoga silaturahmi ini terus terjaga dengan baik,” ungkapnya.

Usai penyampaian ucapan dan doa, acara berlanjut dengan makan bersama.

Menu sokko dan palekko lengkap dengan sambal serta hidangan lainnya tersaji di tengah suasana penuh canda. Kopi hangat khas Warkop Olleng ikut menemani obrolan hingga malam.

Momen sederhana itu menjadi bukti bahwa perayaan ulang tahun tidak selalu harus digelar meriah. Kebersamaan dan doa dari orang-orang terdekat justru menjadi bagian paling berkesan bagi Andi Jumawi di usia ke-51.

Dari secangkir kopi hingga sepiring palekko, malam itu Warkop Olleng menjadi saksi hangatnya persahabatan dan silaturahmi insan pers Soppeng.

(Taggi)

Peduli Warga di Musim Kering, Polwan Polres Soppeng Salurkan Air Bersih


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Musim kering yang berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah menjadi perhatian jajaran Polisi Wanita (Polwan) Polres Soppeng.

Di tengah kondisi tersebut, personel Polwan Polres Soppeng turun langsung membantu warga dengan menyalurkan bantuan air bersih di Tompo Tobani, Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Jumat (28/8/2026).

Aksi sosial ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Jadi Polwan ke-78 sekaligus sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat musim kering.

Polwan Polres Soppeng tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga hadir langsung di tengah warga. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus merespons kebutuhan dasar warga yang terdampak kondisi kekeringan.

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H. mengatakan, penyaluran air bersih merupakan bentuk nyata kepedulian Polri terhadap masyarakat.

Menurutnya, peringatan Hari Jadi Polwan ke-78 menjadi momentum untuk menghadirkan kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh warga.

“Polwan merupakan bagian dari kekuatan Polri yang memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan dan membangun hubungan yang baik dengan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa Polri hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan pelayanan keamanan, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Hari Budiyanto.

Ia berharap bantuan air bersih tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan warga selama musim kering berlangsung.

Kapolres juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memperhatikan masyarakat yang terdampak kekeringan dan mengambil langkah yang diperlukan agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.

“Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi warga. Kami juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memperhatikan kondisi masyarakat yang terdampak kekeringan,” katanya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bukti kepedulian Polwan Polres Soppeng dalam memperkuat kemitraan dengan masyarakat.

Di tengah musim kering, setetes air menjadi sangat berarti. Melalui aksi sosial ini, Polwan Polres Soppeng memilih hadir dan membantu warga yang membutuhkan.

(Taggi)

Maulid Nabi di Korem 143/HO Jadi Momentum Perkuat Iman dan Soliditas Prajurit


Kendari, Teropongsulawesi.com, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 di Korem 143/Halu Oleo (HO) tidak sekadar menjadi agenda keagamaan. Kegiatan tersebut dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat keimanan, membangun kebersamaan, sekaligus meneguhkan karakter prajurit dalam menjalankan pengabdian.

Kegiatan berlangsung di Masjid Al-Askariyah Korem 143/HO, Jalan Abdullah Silondae, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, Kamis (27/8/2026).

Suasana khidmat terasa saat keluarga besar Korem 143/HO mengikuti ceramah keagamaan yang disampaikan Ustaz Muh. Thahilal Jahidul Hasyb., S.Pd., M.Pd.

Dalam ceramahnya, jamaah diajak kembali meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Sikap jujur, amanah, sabar, rendah hati dan peduli terhadap sesama menjadi nilai utama yang dinilai penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Danrem 143/HO Brigjen TNI R. Wahyu Sugiarto, S.I.P., M.Han., menekankan bahwa keteladanan Rasulullah SAW memiliki kaitan erat dengan pelaksanaan tugas seorang prajurit.

Menurutnya, keimanan, keikhlasan dan kepedulian harus berjalan seiring dengan profesionalisme dalam menjalankan tugas.

“Jadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai inspirasi dalam menjalankan tugas. Dengan keimanan, keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama, kita dapat memberikan pengabdian yang lebih baik,” pesan Danrem.

Ia berharap momentum Maulid Nabi mampu membentuk personel Korem 143/HO yang semakin humanis, memiliki kepedulian sosial serta mampu hadir memberikan manfaat bagi masyarakat.

Peringatan tersebut sekaligus menjadi ruang mempererat silaturahmi di tengah rutinitas kedinasan. Kebersamaan antara prajurit, PNS dan keluarga besar Korem diharapkan semakin memperkuat soliditas dalam mendukung pelaksanaan tugas.

Kegiatan dihadiri Kasrem 143/HO, para Kepala Seksi Korem 143/HO, para Dan/Kabalak Aju jajaran Korem 143/HO, para Pasi, Ketua Persit KCK Koorcab Rem 143 PD XIV/Hasanuddin beserta pengurus, serta seluruh prajurit dan PNS jajaran Korem 143/HO.

Peringatan Maulid Nabi di Korem 143/HO ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi pengingat bagi setiap personel untuk membawa nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW ke dalam pelaksanaan tugas dan kehidupan bermasyarakat.

(Penrem 143/HO)

Bupati Soppeng Warning Karhutla: Jangan Sampai Api Membesar, Semua Harus Siaga


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, S.E. memberikan perhatian khusus terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Soppeng.

Dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Antisipasi Karhutla yang digelar Polres Soppeng di Aula Tantya Sudhirajati, Kamis (27/8/2026), Bupati menegaskan bahwa ancaman Karhutla harus dihadapi dengan kesiapan bersama, bukan menunggu sampai kebakaran meluas.

Bupati hadir bersama jajaran pemerintah daerah, TNI-Polri, Kejaksaan, Pengadilan, Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel, BPBD, KPH Walanae, pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan serta sejumlah instansi terkait.

Menurutnya, kondisi cuaca dan keberadaan kawasan hutan serta lahan terbuka membutuhkan kewaspadaan ekstra. Karena itu, langkah pencegahan harus diperkuat mulai dari tingkat paling bawah.

“Kita tidak boleh lengah. Begitu ada informasi atau tanda-tanda kebakaran, harus segera ditindaklanjuti. Jangan sampai api sudah membesar baru kita bergerak,” tegas Suwardi Haseng.

Ia juga meminta agar komunikasi antarpihak berjalan efektif. Pemerintah desa dan kelurahan dinilai memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam mendeteksi sekaligus melaporkan potensi Karhutla di wilayah masing-masing.

Di sisi lain, Polres Soppeng telah menyiapkan Satgas Karhutla dengan membagi wilayah Kabupaten Soppeng ke dalam tiga rayon. Rayon I mencakup Lalabata, Lilirilau dan Ganra; Rayon II meliputi Marioriawa dan Donri; sedangkan Rayon III mencakup Liliriaja, Citta dan Marioriwawo.

Pembagian rayon tersebut menjadi strategi untuk mempercepat koordinasi dan mobilisasi personel ketika terjadi kebakaran.

Bupati menilai keberadaan satgas saja tidak cukup tanpa dukungan masyarakat. Edukasi dan kesadaran warga untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran harus terus ditingkatkan.

“Pencegahan jauh lebih penting. Semua harus punya kepedulian, karena dampak Karhutla bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga bisa mengganggu aktivitas dan keselamatan masyarakat,” ujarnya.

Rakor tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen lintas sektor dalam menghadapi ancaman Karhutla. Pemerintah Kabupaten Soppeng bersama seluruh unsur terkait memastikan kesiapsiagaan terus ditingkatkan agar setiap potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin.

(Taggi)

Selasa, 25 Agustus 2026

Operasi Gaktib Digelar, Korem 143/HO Periksa Administrasi dan Kendaraan Prajurit


Kendari, Teropongsulawesi.com, Korem 143/Halu Oleo (HO) bersama Detasemen Polisi Militer (Denpom) Kendari menggelar Operasi Penegakan Ketertiban (Gaktib) terhadap prajurit di lingkungan Makorem 143/HO, Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (26/8/2026).

Operasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat disiplin dan kesadaran hukum prajurit. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan setiap personel mematuhi ketentuan yang berlaku, termasuk dalam penggunaan kendaraan dan kelengkapan administrasi.

Dandenpom XIV/3 Kendari, Letkol CPM Haryadi BP, S.H., memimpin langsung pemeriksaan tersebut.

Sejumlah kelengkapan prajurit diperiksa, mulai dari administrasi hingga kendaraan yang digunakan. Pemeriksaan kendaraan mencakup SIM, STNK, kelengkapan kendaraan, serta kepatuhan terhadap aturan tertib berlalu lintas.

Langkah tersebut dinilai penting karena prajurit TNI tidak hanya dituntut profesional dalam menjalankan tugas, tetapi juga harus mampu menjadi contoh kedisiplinan dan kepatuhan hukum di tengah masyarakat.

Melalui Operasi Gaktib, Korem 143/HO bersama Denpom Kendari menegaskan pentingnya membangun budaya disiplin dari lingkungan internal satuan. Prajurit diingatkan agar tidak mengabaikan aturan, termasuk ketika berkendara di jalan raya.

Kegiatan berlangsung tertib dan lancar. Operasi Gaktib diharapkan semakin meningkatkan kesadaran hukum serta kedisiplinan seluruh personel Korem 143/HO, sehingga terbentuk prajurit yang profesional, taat aturan, dan siap menjalankan tugas secara optimal.

(Penrem 143/HO)

Bupati Suwardi Tegaskan Manajemen Talenta Jadi Dasar Menyiapkan Pemimpin Birokrasi Soppeng


Makassar, Teropongsulawesi.com, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng kembali menegaskan komitmennya membangun birokrasi yang profesional dengan menempatkan kompetensi dan potensi ASN sebagai dasar pengembangan karier.

Komitmen itu dibawa Suwardi saat mengikuti Ekspose Manajemen Talenta Tahap II Instansi Pemerintah Daerah Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2026 yang digelar Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI di Aula Asta Cita, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Selasa (25/8/2026).

Bagi Suwardi, manajemen talenta bukan sekadar sistem untuk menentukan siapa yang menempati sebuah jabatan. Lebih jauh, sistem tersebut menjadi cara pemerintah daerah membaca potensi ASN sekaligus menyiapkan kader birokrasi untuk kebutuhan pemerintahan di masa depan.

Langkah itu telah mulai diterapkan Pemkab Soppeng melalui proses assessment ASN. Pemetaan dilakukan melalui wawancara dan Computer Assisted Competency Test (CACT) untuk melihat kompetensi serta potensi aparatur.

Hasil assessment tersebut selanjutnya diarahkan menjadi database talenta ASN. Data itu dapat menjadi salah satu dasar dalam pengembangan karier, penempatan jabatan dan penyiapan calon pemimpin birokrasi.

Suwardi menilai pola tersebut penting agar pengelolaan ASN semakin objektif dan terukur.

“Ini bukan hanya tentang siapa yang menduduki jabatan hari ini, tetapi bagaimana kita menyiapkan talenta-talenta terbaik untuk memimpin birokrasi Soppeng ke depan,” ujar Suwardi.

Menurutnya, ASN yang memiliki kemampuan dan potensi harus mendapatkan ruang pengembangan yang sesuai. Dengan begitu, kebutuhan organisasi pemerintahan dapat diisi aparatur yang memang memiliki kapasitas.

Penerapan manajemen talenta juga diharapkan dapat memperkuat profesionalisme birokrasi sekaligus mengurangi keputusan kepegawaian yang tidak berbasis pada kompetensi.

Komitmen Suwardi terhadap sistem tersebut sebelumnya telah ditunjukkan melalui penerapan manajemen talenta dalam penempatan jabatan di lingkungan Pemkab Soppeng. Sistem tersebut diarahkan untuk memetakan ASN berdasarkan kompetensi dan potensi.

Dalam ekspose di Makassar, Kepala BKN RI Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh mengapresiasi langkah Sulawesi Selatan dalam mempercepat penerapan manajemen talenta.

Zudan menekankan bahwa manajemen talenta tidak boleh berhenti pada kelengkapan administrasi. Sistem tersebut harus benar-benar dimanfaatkan untuk penempatan dan pengembangan ASN.

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman juga menegaskan pentingnya menempatkan ASN berdasarkan kompetensi, kapasitas dan potensi.

Ekspose tahap II ini diikuti 11 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Sebelumnya, 13 pemerintah daerah di Sulawesi Selatan telah mendapatkan persetujuan penerapan Manajemen Talenta.

Bagi Suwardi, proses tersebut menjadi bagian dari investasi jangka panjang Pemkab Soppeng dalam membangun birokrasi. Bukan hanya mencari pejabat untuk kebutuhan hari ini, tetapi memastikan daerah memiliki talenta-talenta ASN yang siap menjadi pemimpin pada masa mendatang.

(Taggi) 

Petani Laoli Cari Jalan Damai ke Kedatuan Luwu, Sosiolog Unhas Soroti Kebuntuan Penyelesaian Konflik


Makassar, Teropongsulawesi.com, Langkah petani Dusun Laoli, Desa Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, mendatangi Kedatuan Luwu untuk mengadukan konflik agraria yang mereka hadapi dinilai menunjukkan adanya kebuntuan dalam proses penyelesaian melalui jalur formal.

Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Rahmat Muhammad, M.Si., menilai pilihan masyarakat tersebut tidak bisa serta-merta dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap negara.

Koordinator Program Studi S3 Sosiologi Unhas itu melihat kedatangan petani Laoli ke Istana Kedatuan Luwu sebagai upaya mencari ruang dialog yang dinilai lebih dekat dengan modal sosial dan budaya masyarakat setempat.

“Keputusan mendatangi institusi adat Kedatuan Luwu menunjukkan adanya kelelahan dan kebuntuan struktural,” ujar Rahmat di Makassar, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, masyarakat akar rumput sering menghadapi keterbatasan ketika harus berhadapan dengan mekanisme formal yang panjang dan prosedural.

“Prosedur formal negara sering kali dirasa terlalu kaku, prosedural, atau asimetris bagi kelompok akar rumput,” katanya.

Sudah Mengadu ke Sejumlah Lembaga

Sebelum mendatangi Kedatuan Luwu, masyarakat petani Laoli mengaku telah menempuh sejumlah jalur untuk mendapatkan penyelesaian.

Hal itu tertuang dalam surat permohonan audiensi kepada Datu Luwu tertanggal 1 Agustus 2026.

Dalam surat tersebut, petani menyebut telah menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, berdialog dengan DPRD Luwu Timur, mengadukan persoalan kepada DPRD Sulawesi Selatan, menempuh upaya hukum, hingga melapor ke Komnas HAM.

Namun, berbagai langkah tersebut belum menghasilkan penyelesaian yang mereka harapkan.

Pada saat yang sama, masyarakat mengaku proses pengosongan lahan telah berlangsung dan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan keluarga mereka.

Kondisi inilah yang kemudian mendorong mereka mencari ruang lain untuk menyampaikan persoalan.

Kedatuan Luwu Bukan Lembaga Peradilan

Rahmat menilai masyarakat Laoli justru menunjukkan pemahaman mengenai posisi Kedatuan Luwu.

Kedatangan mereka bukan untuk meminta Datu Luwu memutuskan siapa yang benar atau salah dalam sengketa pertanahan.

“Hal ini tentu saja bukan upaya melawan negara atau mencari pengadilan tandingan. Secara sosiologis, warga sedang menggunakan ‘modal sosial’ dan sejarah kultural,” jelasnya.

Menurut Rahmat, Kedatuan Luwu memiliki posisi sebagai otoritas moral yang dapat membantu membuka ruang komunikasi di antara pihak-pihak yang berkonflik.

“Kedatuan diposisikan sebagai otoritas moral yang dapat memfasilitasi dialog yang lebih egaliter,” ujarnya.

Hal tersebut juga sejalan dengan isi surat petani Laoli. Mereka secara tegas menyatakan memahami bahwa Kedatuan Luwu bukan lembaga peradilan maupun pemerintahan yang memiliki kewenangan memutus perkara pertanahan.

Mereka hanya meminta nasihat, pertimbangan, dan kemungkinan fasilitasi dialog yang dapat menghadirkan penyelesaian secara damai dan bermartabat.

Konflik Tak Sekadar Soal Tanah

Persoalan yang dihadapi petani Laoli, kata Rahmat, tidak dapat dilihat hanya dari sisi kepemilikan atau penguasaan lahan.

Ada persoalan kehidupan keluarga, sumber penghidupan, rasa keadilan, serta hubungan sosial antara masyarakat dan pemerintah.

Karena itu, ketika masyarakat datang ke Kedatuan Luwu, langkah tersebut mempunyai makna sosial yang lebih luas.

Mereka menggunakan modal sosial dan sejarah kultural yang masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Tana Luwu.

Dalam suratnya, petani Laoli juga menempatkan Kedatuan Luwu sebagai bagian dari ruang sosial yang selama ini dipercaya menjaga nilai musyawarah, persaudaraan, keadilan, dan keharmonisan masyarakat.

Audiensi yang berlangsung Jumat, 21 Agustus 2026, kemudian menjadi bagian dari upaya membuka kembali komunikasi tersebut.

Langkah itu tidak berarti masyarakat meninggalkan hukum negara ataupun menggantikan proses hukum dengan mekanisme adat.

Sebaliknya, mereka berharap nilai-nilai adat dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan pihak-pihak yang berselisih.

Jangan Sampai Konflik Meledak

Di tengah proses pencarian penyelesaian, Rahmat meminta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum mengedepankan pendekatan persuasif.

Ia secara khusus mengingatkan agar tidak ada intimidasi maupun tindakan pengosongan lahan secara paksa selama proses mediasi berlangsung.

“Selama proses mediasi berlangsung, pemerintah daerah dan aparat penegak hukum harus menghentikan segala bentuk intimidasi dan upaya pengosongan lahan secara paksa,” tegasnya.

Rahmat menilai pendekatan represif justru dapat memperbesar ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Tindakan represif hanya akan mempertebal trust issue masyarakat terhadap negara dan memicu konflik terbuka,” katanya.

Menurutnya, konflik agraria selalu memiliki dimensi sosial yang kompleks. Selain status hukum tanah, terdapat kepentingan pembangunan, sumber penghidupan masyarakat, relasi kekuasaan, serta rasa keadilan.

Karena itu, penyelesaian yang hanya mengandalkan kekuatan administratif atau hukum tanpa mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat berisiko membuat konflik semakin panjang.

Kedatuan Luwu, dalam konteks ini, dapat menjadi ruang tambahan untuk membangun komunikasi.

Bukan sebagai pengadilan tandingan, melainkan sebagai ruang moral dan kultural untuk mempertemukan suara-suara yang selama ini belum menemukan titik temu.

Bagi petani Laoli, mengetuk pintu Kedatuan Luwu bukan berarti meninggalkan negara.

Mereka justru sedang mencari cara agar dialog kembali terbuka ketika berbagai jalur formal yang telah ditempuh belum memberikan penyelesaian yang mereka harapkan.

Pada akhirnya, persoalan tersebut bukan hanya tentang siapa menguasai tanah, tetapi juga bagaimana rasa keadilan, martabat, dan keberlangsungan hidup masyarakat tetap menjadi bagian dari proses penyelesaiannya.

(Tim)

PJI Sulsel Apresiasi Polda Jabar Bongkar Passobis Sidrap, Koordinasi dengan Polda Sulsel Dipertanyakan


Makassar, Teropongsulawesi.com, Pengungkapan sindikat penipuan daring atau passobis asal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan oleh Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Barat mendapat apresiasi dari Humas Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulawesi Selatan, Dzoel SB.

Meski demikian, keberhasilan tersebut turut memunculkan sorotan mengenai koordinasi penanganan kejahatan siber lintas wilayah. Sebab, jaringan yang beroperasi dari Sidrap itu justru dibongkar langsung oleh aparat Polda Jawa Barat.

Dzoel SB mempertanyakan sejauh mana koordinasi Polda Jabar dengan Polda Sulsel maupun Polres Sidrap sebelum dilakukan penindakan.

“PJI Sulsel mengapresiasi langkah tegas Polda Jawa Barat. Namun, ketika aktivitas para terduga pelaku berada di Sidrap, publik tentu ingin mengetahui bagaimana koordinasi dengan Polda Sulsel dan Polres Sidrap,” ujar Dzoel SB. Selasa (25/8/2026). 

Menurutnya, persoalan tersebut penting dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.

“Ini bukan untuk mendiskreditkan institusi kepolisian di Sulsel. Justru transparansi diperlukan agar masyarakat memahami bagaimana mekanisme koordinasi dalam mengungkap kejahatan siber yang melibatkan wilayah hukum berbeda,” katanya.

20 Orang Diamankan, 12 Jadi Tersangka

Dalam operasi tersebut, aparat Polda Jabar mengamankan sekitar 20 orang di lokasi yang diduga menjadi tempat aktivitas sindikat. Setelah pemeriksaan dan pencocokan dengan alat bukti, 12 orang ditetapkan sebagai tersangka.

Ke-12 tersangka masing-masing berinisial UR, BS, NYL, NR, FN, DN, HB, NK, ARB, MD, MA, dan MDH.

Mereka diduga menjalankan peran berbeda, mulai dari penyedia akun, pembuat unggahan kendaraan fiktif hingga operator yang berkomunikasi dengan calon korban.

Kasus tersebut terungkap setelah Polda Jabar menerima dua laporan polisi dari korban berinisial FFK dan NM. Penelusuran siber kemudian mengarahkan penyidik ke Kabupaten Sidrap dan dilakukan penindakan pada 12 Agustus 2026.

Modus Jual Mobil Murah, Ngaku Anggota TNI

Sindikat tersebut diduga menggunakan Facebook untuk menawarkan mobil dengan harga jauh di bawah pasaran.

Calon korban kemudian diarahkan berkomunikasi melalui pesan pribadi hingga WhatsApp. Untuk meningkatkan kepercayaan, salah satu pelaku diduga mengaku sebagai anggota TNI dan menggunakan foto maupun pakaian dinas.

Pelaku bahkan melakukan video call dengan mengenakan seragam TNI. Polisi juga menemukan benda yang tampak seperti senjata api dalam materi yang digunakan pelaku, namun benda tersebut ternyata merupakan senjata mainan.

Setelah korban percaya, pelaku mengirimkan video yang seolah-olah memperlihatkan kendaraan sedang dikemas untuk dikirim melalui jasa kargo.

Padahal, video tersebut diduga dibuat di sebuah rumah dan bukan di fasilitas pengiriman kendaraan.

Korban kemudian diarahkan mentransfer uang ke rekening tertentu.

Dari dua laporan yang ditangani, FFK mengalami kerugian Rp19.941.774, sedangkan NM mengalami kerugian Rp20.354.459. Total kerugian kedua korban mencapai lebih dari Rp40 juta.

PJI Minta Kejahatan Siber Ditangani Terpadu

Dzoel menilai kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kejahatan siber tidak lagi mengenal batas wilayah. Pelaku dapat beroperasi dari satu daerah, sementara korban berada di provinsi lain.

Karena itu, menurutnya, koordinasi antara kepolisian daerah menjadi bagian penting dalam memutus jaringan penipuan daring.

“Jangan sampai kejahatan siber berkembang karena adanya celah koordinasi. Aparat harus bergerak bersama, saling berbagi informasi dan memastikan setiap jaringan yang terungkap dapat ditelusuri hingga ke akar-akarnya,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat tidak mudah tergiur penawaran kendaraan dengan harga tidak masuk akal di media sosial.

“Kalau harga terlalu murah, masyarakat harus waspada. Jangan hanya percaya karena seseorang memakai seragam atau mengaku sebagai aparat. Identitas harus diverifikasi dan transaksi dilakukan dengan mekanisme yang aman,” pungkas Dzoel.

(AP)

Photos

Business

Internasional

Ekonomi

Politik

HUKUM KRIMINAL

© Copyright 2019 TEROPONG SULAWESI | All Right Reserved