Daerah -->

Minggu, 13 September 2026

Bupati Soppeng Minta Zakat Tepat Sasaran: Jangan Ada Lagi Pendataan Suka dan Tidak Suka


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Pesan tegas disampaikan Bupati Soppeng dalam penyaluran Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS) di Baruga Rumah Jabatan Bupati Soppeng, Watansoppeng, Minggu (13/9/2026).

Bupati meminta seluruh Unit Pengumpul Zakat (UPZ) memastikan proses pendataan penerima bantuan dilakukan secara objektif dan berdasarkan kondisi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Ia mengingatkan agar tidak ada penerima yang ditentukan hanya karena faktor kedekatan, hubungan pribadi maupun pertimbangan subjektif lainnya.

“Hindari pendataan secara ‘SUKA DAN TIDAK SUKA’, tapi berikanlah kepada yang memang berhak,” tegas Bupati.

Menurutnya, zakat merupakan amanah yang bersumber dari masyarakat sehingga penyalurannya harus dapat dipertanggungjawabkan. Setiap dana yang dihimpun harus sampai kepada golongan yang memang memiliki hak untuk menerimanya.

Bupati juga berharap bantuan ZIS tidak berhenti sebagai bantuan konsumtif. Penerima yang memiliki usaha didorong memanfaatkan bantuan tersebut sebagai modal pengembangan usaha.

“Gunakanlah bantuan ini dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga atau dimanfaatkan sebagai penunjang usaha produktif,” ujarnya.

Ia bahkan berharap para mustahik yang menerima bantuan hari ini mampu meningkatkan taraf hidupnya sehingga ke depan dapat menjadi muzaki.

395 Penerima, Bantuan Capai Rp136 Juta

BAZNAS Kabupaten Soppeng dalam kegiatan tersebut menyalurkan ZIS kepada 395 penerima manfaat dengan total bantuan mencapai Rp136 juta.

Ketua BAZNAS Kabupaten Soppeng, KM Satturi, S.Pd.I., M.Pd.I., mengatakan penerima bantuan tersebar di Kecamatan Lalabata, Donri-Donri dan Ganra.

Rinciannya, Kecamatan Lalabata menerima alokasi untuk 100 mustahik, 50 siswa dan 50 pelaku UMKM.

Di Kecamatan Donri-Donri, bantuan diberikan kepada 90 mustahik, 30 siswa dan 10 pelaku UMKM. Sedangkan di Kecamatan Ganra terdapat 40 mustahik, 20 siswa dan lima pelaku UMKM.

Bantuan diberikan berdasarkan kategori penerima. Pelaku UMKM menerima Rp1,5 juta, mustahik sebesar Rp300 ribu, sedangkan siswa dan santri memperoleh Rp200 ribu berikut tas sekolah.

Di kesempatan tersebut, Bupati kembali mengajak ASN serta masyarakat yang telah memenuhi nisab untuk menyalurkan zakat, infak dan sedekah melalui BAZNAS Kabupaten Soppeng.

Ia menilai kepercayaan masyarakat merupakan modal penting dalam memperkuat pengelolaan zakat sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Penyaluran ZIS tersebut turut dihadiri Dandim 1423 Soppeng Letkol Inf Eko Yulianto, Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, Kabag Ops Polres Soppeng Kompol Abd. Rahman, anggota DPRD Kabupaten Soppeng dari Fraksi Golkar Hj. Andi Wahdah dan Hj. Insana, perwakilan Kemenag Soppeng, Kapolsek Lalabata AKP Asep Sibli, para camat, pengurus BAZNAS, UPZ, lurah serta kepala desa.

(RAT)

Sabtu, 12 September 2026

Bupati Soppeng Warning Mitra MBG: Jangan Sekadar Bagikan Makanan, Standar Gizi dan Kebersihan Wajib Dijaga


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Bupati Soppeng memberikan penekanan serius terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Soppeng. Program yang menyasar kelompok penerima manfaat tersebut diminta tidak hanya mengejar jumlah distribusi, tetapi harus memastikan makanan yang diberikan benar-benar aman, bergizi dan disajikan tepat waktu.

Pesan itu disampaikan Bupati Soppeng saat menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M yang digelar Gabungan Mitra MBG Kabupaten Soppeng di Gedung Lapatau, Sabtu malam (12/9/2026).

Bupati menegaskan, MBG merupakan Program Strategis Nasional sehingga seluruh proses pelaksanaannya harus mengikuti mekanisme dan standar yang telah ditentukan.

“Pemerintah daerah tidak main-main dan menaruh harapan besar kepada seluruh jajaran Gabungan Mitra MBG untuk menyukseskan penyelenggaraan MBG di Kabupaten Soppeng,” tegasnya.

Ia mengingatkan para mitra agar tidak menganggap persoalan kebersihan, gizi dan keamanan pangan sebagai hal sepele. Sedikit saja standar diabaikan, dampaknya dapat langsung dirasakan penerima manfaat.

Empat hal menjadi perhatian utama, yakni higienitas, standar gizi yang optimal, ketepatan waktu penyajian dan kualitas bahan pangan.

Menurutnya, makanan yang disiapkan melalui program MBG dikonsumsi oleh kelompok yang membutuhkan perhatian khusus. Penerimanya bukan hanya anak sekolah dan santri, tetapi juga balita, ibu hamil serta ibu menyusui.

Karena itu, pengawasan harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari pemilihan dan penyiapan bahan pangan, proses pengolahan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), proses distribusi hingga makanan diterima oleh penerima manfaat.

Pemkab Soppeng sendiri menyatakan siap mendukung sekaligus mengawasi pelaksanaan program tersebut. Dukungan pemerintah daerah dilakukan melalui fasilitasi lahan dapur SPPG, penyediaan serta verifikasi data penerima manfaat dan pemanfaatan laboratorium daerah untuk pengujian sampel makanan.

Pengujian secara berkala diperlukan untuk memastikan makanan yang disalurkan aman dan tidak mengandung zat berbahaya maupun bakteri yang dapat menyebabkan keracunan.

Selain makanan, kondisi dapur juga menjadi perhatian. Higienitas dan sanitasi SPPG harus dipastikan tetap terjaga sehingga proses pengolahan makanan berlangsung sesuai standar keamanan pangan.

Sementara itu, Ketua Panitia Peringatan Maulid Gabungan Mitra MBG Kabupaten Soppeng, Yunas Asri, melaporkan saat ini sudah terdapat 18 SPPG yang beroperasi di Kabupaten Soppeng.

Pertumbuhan jumlah SPPG tersebut sekaligus menjadi tantangan tersendiri. Semakin luas cakupan program, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan agar standar pelayanan tidak berbeda antara satu dapur dengan dapur lainnya.

Bupati pun meminta seluruh unsur yang terlibat menjaga konsistensi kualitas. Program MBG harus dilaksanakan secara profesional dan bertanggung jawab karena menyangkut kesehatan serta masa depan generasi penerima manfaat.

Peringatan Maulid kali ini mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Menguatkan Semangat Berbagi untuk Generasi Sehat dan Berakhlak Mulia.”

Tema tersebut menjadi pengingat bahwa semangat berbagi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab. Makanan yang diberikan kepada masyarakat harus benar-benar layak, aman dan memiliki nilai gizi yang dibutuhkan.

Bupati berharap MBG menjadi investasi jangka panjang dalam membentuk generasi Soppeng yang sehat, cerdas, religius, berintegritas dan mampu bersaing.

Dengan 18 SPPG yang telah beroperasi, seluruh pihak diminta tidak lengah. Pemerintah daerah, mitra pelaksana dan unsur terkait harus memastikan setiap tahapan berjalan sesuai mekanisme.

Pesannya jelas: MBG bukan sekadar membagikan makanan, tetapi memastikan setiap makanan yang sampai kepada penerima benar-benar aman, bergizi dan memberikan manfaat bagi tumbuh kembang generasi masa depan Soppeng.

(RAT) 

Jumat, 11 September 2026

Direktur RSUD La Temmamala Terima Penghargaan, Soppeng Raih Juara II Inovasi Rumah Sakit


Makassar, Teropongsulawesi.com, Direktur RSUD La Temmamala Kabupaten Soppeng, dr. Hj. Sitti Mudirusniah, M.Kes., Sp.KJ., menerima penghargaan atas keberhasilan rumah sakit tersebut meraih Juara II Pameran Layanan dan Inovasi Rumah Sakit tingkat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar).

Penghargaan tersebut diterima langsung dr. Sitti Mudirusniah pada kegiatan PERSI/MAKERSI Wilayah Sulselbar yang digelar di Claro Hotel & Convention Makassar, Jumat (11/9/2026).

Raihan tersebut menjadi apresiasi atas kreativitas dan kualitas RSUD La Temmamala dalam menampilkan berbagai inovasi pelayanan kesehatan pada ajang tersebut.

Tak sekadar mengejar prestasi, keikutsertaan RSUD La Temmamala menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam memperkuat budaya mutu dan keselamatan pasien.

Berbagai inovasi yang ditampilkan juga menjadi sarana untuk memperkenalkan terobosan pelayanan sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman dan memperkuat jejaring dengan fasilitas kesehatan lainnya di Sulselbar.

Sertifikat penghargaan ditandatangani Ketua PERSI Wilayah Sulselbar, Dr. dr. Khalid Saleh, Sp.PD-KKV, FINASIM, MARS, bersama Ketua Panitia Muswil PERSI & MAKERSI Sulselbar 2026, drg. Sukaeni Ibrahim, Ph.D.

Direktur RSUD La Temmamala, dr. Hj. Sitti Mudirusniah, menyebut penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran rumah sakit.

“Capaian ini bukan sekadar pengakuan atas keunggulan pameran dan inovasi, melainkan pemacu semangat bagi seluruh jajaran rumah sakit untuk terus meningkatkan mutu pelayanan serta keselamatan bagi pasien,” ujarnya.

Menurutnya, penghargaan tersebut harus menjadi motivasi untuk terus melakukan pembenahan dan menghadirkan inovasi yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Yang paling penting bukan hanya penghargaan yang kita terima, tetapi bagaimana inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Raihan Juara II ini sekaligus mempertegas langkah RSUD La Temmamala dalam mendorong transformasi pelayanan kesehatan yang lebih inovatif, ramah, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

Bagi Soppeng, capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa inovasi pelayanan kesehatan dari daerah mampu mendapat tempat di tingkat Sulselbar.

(Red)

Sengketa Belum Tuntas, Petani Laoli Minta Pemkab Lutim Tak Ubah Kondisi Lahan yang Digugat di PTUN


Luwu Timur, Teropongsulawesi.com, Perkara sengketa lahan Petani Laoli masih bergulir di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Makassar. Namun, persoalan di lapangan kembali memantik keberatan.

Sejumlah Petani Laoli didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar mendatangi Kantor Bupati Luwu Timur, Jumat (11/9/2026). Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Luwu Timur menghentikan aktivitas di atas lahan yang menjadi objek sengketa hingga proses hukum memperoleh kepastian.

Para petani mempersoalkan aktivitas yang disebut melibatkan Pemkab Luwu Timur dan PT Indonesia Huali Industrial Park (IHIP).

Menurut pihak petani, kondisi lahan semestinya tidak diubah ketika statusnya masih menjadi bagian dari perkara yang diperiksa pengadilan.

Keberatan tersebut turut disampaikan dalam video yang beredar melalui akun Facebook Petani Laoli Melawan. Dalam video itu, para petani meminta pemerintah menghormati proses hukum dan tidak mengambil tindakan yang dapat memengaruhi kondisi objek sengketa.

Persoalan HPL Jadi Pokok Gugatan

Kuasa hukum Petani Laoli menyebut perkara di PTUN Makassar berkaitan dengan sertifikat Hak Pengelolaan (HPL) yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.

Pihak petani mempersoalkan proses penerbitan sertifikat tersebut dan memilih menempuh jalur peradilan untuk mendapatkan kepastian hukum.

Karena perkara masih berjalan, mereka meminta seluruh pihak menghindari tindakan yang berpotensi menimbulkan perubahan terhadap objek sengketa.

Bagi petani, persoalannya bukan sekadar siapa yang berada di lokasi atau siapa yang melakukan aktivitas. Yang mereka soroti adalah apakah kondisi objek perkara akan tetap terjaga sampai pengadilan menyelesaikan pemeriksaannya.

Delapan Desakan Dibawa ke Bupati

Dalam surat yang disampaikan kepada Bupati Luwu Timur, Petani Laoli mencantumkan delapan desakan.

Mereka meminta penghentian seluruh kegiatan pembukaan dan pembersihan lahan, pemagaran, pembangunan, penguasaan fisik serta bentuk perubahan lain terhadap objek sengketa.

Pemerintah juga diminta tidak melakukan tindakan eksekutorial maupun tindakan faktual yang menurut mereka dapat mengurangi atau mengubah hak dan kepentingan Petani Laoli.

Selanjutnya, petani meminta tidak ada pengerahan TNI, Polri, Satpol PP ataupun aparatur pemerintah untuk melakukan pengosongan maupun penguasaan fisik lahan.

Jaminan agar masyarakat tidak mengalami intimidasi, ancaman dan kekerasan juga menjadi salah satu poin yang mereka sampaikan.

Petani kemudian meminta seluruh pihak menghormati proses persidangan di PTUN Makassar dan menunggu putusan berkekuatan hukum tetap.

Mereka juga mendorong penyelesaian secara damai, transparan dan melalui dialog, dengan setiap tindakan pemerintah tetap berlandaskan kepastian hukum, tata kelola pemerintahan yang baik, HAM dan prinsip kehati-hatian.

Poin terakhir menegaskan permintaan agar pemerintah tidak mendahului proses pengadilan melalui tindakan faktual di lapangan.

Petani: Jangan Sampai Lapangan Mendahului Pengadilan

Kekhawatiran terbesar Petani Laoli adalah perubahan kondisi objek sengketa ketika perkara masih diperiksa.

Mereka menilai, jika perubahan fisik atau penguasaan terjadi lebih dahulu, persoalan yang sedang diuji di pengadilan berpotensi semakin kompleks.

Karena itu, mereka meminta pemerintah memilih langkah yang paling minim risiko: menahan diri sampai proses hukum memberikan kepastian.

Bagi para petani, menghormati proses PTUN bukan hanya menunggu putusan, tetapi juga menjaga agar objek yang sedang diperiksa tidak berubah secara sepihak selama perkara berjalan.

Mereka juga menyampaikan bahwa apabila aktivitas tetap dilakukan sebelum adanya putusan berkekuatan hukum tetap, konsekuensi hukum maupun kerugian yang timbul nantinya menjadi tanggung jawab pihak yang melakukan atau memerintahkan tindakan tersebut.

Sengketa lahan Petani Laoli kini kembali menjadi perhatian publik Luwu Timur. Di satu sisi terdapat proses hukum yang masih berjalan di PTUN Makassar. Di sisi lain, terdapat aktivitas di lapangan yang dipersoalkan pihak petani.

Situasi ini membuat tuntutan mereka semakin jelas: hentikan sementara aktivitas, jangan mengubah objek sengketa, dan biarkan hakim menyelesaikan perkara melalui jalur hukum.

Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan PT Indonesia Huali Industrial Park (IHIP) belum menyampaikan tanggapan resmi terkait desakan Petani Laoli tersebut.

(Tim)

Kamis, 10 September 2026

Das’ad Latif Hadir di Mapolres Soppeng, Polisi Diingatkan Jangan Lepas dari Akhlak


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Tugas kepolisian bukan hanya soal aturan, kewenangan dan penegakan hukum. Di balik seragam yang dikenakan, setiap anggota Polri juga dituntut memiliki akhlak dan keteladanan saat berhadapan dengan masyarakat.

Pesan itu mengemuka saat Polres Soppeng menghadirkan Ustaz Dr. H. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D. dalam kegiatan tausiah dan doa bersama di Lapangan Apel Mapolres Soppeng, Jalan Latenri Bali, Kelurahan Lalabata Rilau, Kecamatan Lalabata, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan yang diikuti jajaran Polres Soppeng, unsur Forkopimda, tokoh agama, tamu undangan dan masyarakat tersebut mengangkat tema “Merajut Keakraban dengan Meneladani Akhlak Rasulullah SAW Melalui Polri Presisi, Kita Wujudkan Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Kehadiran Ustaz Das’ad Latif memberikan nuansa tersendiri dalam kegiatan pembinaan rohani tersebut. Tausiah tidak hanya menjadi penguatan keagamaan, tetapi juga ruang untuk mengingatkan personel tentang pentingnya menjaga perilaku dalam menjalankan amanah sebagai anggota Polri.

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., mengatakan kemampuan profesional seorang anggota harus dibarengi dengan karakter dan integritas.

“Menjadi anggota Polri bukan hanya tentang bagaimana kita menjalankan tugas sesuai aturan, tetapi juga bagaimana kita menjaga sikap, ucapan dan perilaku ketika berhadapan dengan masyarakat,” ujar Hari Budiyanto.

Ia menilai akhlak Rasulullah SAW dapat menjadi teladan bagi personel dalam menjalankan tugas, terutama dalam menjaga kejujuran, kesabaran, tanggung jawab dan sikap menghargai orang lain.

Kapolres berharap kegiatan tersebut menjadi momentum evaluasi diri bagi seluruh personel.

“Semoga apa yang kita dapatkan hari ini tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas,” katanya.

Hari menegaskan, kepercayaan masyarakat harus dijaga melalui kehadiran polisi yang mampu memberikan pelayanan secara humanis dan profesional.

“Kita ingin setiap personel hadir dengan sikap yang humanis, profesional dan berintegritas, sehingga kepercayaan masyarakat dapat terus kita jaga,” tegasnya.

Sementara itu, Ustaz Das’ad Latif menyampaikan tausiah mengenai keteladanan Rasulullah SAW dan pentingnya menjaga akhlak dalam kehidupan.

Pesan tersebut menjadi penguatan bagi personel agar tugas yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada kewajiban kedinasan, tetapi juga dilandasi moral dan tanggung jawab.

Setelah tausiah, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Kapolres Soppeng juga menyerahkan cinderamata kepada Ustaz Das’ad Latif sebagai bentuk apresiasi atas kehadiran dan tausiah yang diberikan.

Turut hadir Wakil Bupati Soppeng Ir. Selle KS Dalle, Ketua DPRD Kabupaten Soppeng Andi Muhammad Farid, S.Sos., Wakapolres Soppeng Kompol Tamar, S.Sos., Ketua Bhayangkari Cabang Soppeng, unsur Forkopimda, para pejabat utama Polres Soppeng, personel, tokoh agama, tamu undangan dan masyarakat.

Kegiatan berakhir sekitar pukul 17.40 Wita dalam suasana tertib dan kondusif.

Bagi Polres Soppeng, pembinaan rohani tersebut menjadi bagian dari upaya membangun personel yang tidak hanya kuat dalam menjalankan tugas, tetapi juga mampu menjaga sikap dan akhlak ketika bersentuhan langsung dengan masyarakat.

(RAT) 

Melihat Soppeng dari Dekat, Suarni Suwardi Ajak Dekranasda Belajar dari Villa Yuliana


Soppeng, Teropongsulawesi.com, Tidak semua yang berharga harus dicari jauh-jauh. Di tengah Kota Watansoppeng, ada jejak sejarah yang selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat.

Villa Yuliana menjadi salah satu tempat yang kembali mendapat perhatian ketika Ketua Dekranasda Kabupaten Soppeng, Hj. Suarni Suwardi, mengajak pengurus Dekranasda berkunjung ke lokasi tersebut, Kamis (10/9/2026).

Bagi Suarni, kunjungan itu bukan sekadar melihat bangunan bersejarah. Ada pesan yang ingin ditanamkan, yakni pentingnya mengenal lebih dekat daerah sendiri sebelum berbicara tentang bagaimana memperkenalkannya kepada orang lain.

“Kalau kita ingin orang lain mengenal dan bangga dengan Soppeng, tentu kita sendiri harus lebih dulu mengenal dan bangga dengan sejarah, budaya dan potensi yang kita miliki,” ujar Suarni.

Menurutnya, masyarakat terkadang terlalu dekat dengan sesuatu hingga lupa melihat nilai yang ada di baliknya.

Villa Yuliana, misalnya, sudah lama menjadi bagian dari pemandangan Kota Watansoppeng. Namun, tidak semua orang yang melewatinya mengetahui cerita sejarah, nilai arsitektur dan perjalanan panjang yang melekat pada bangunan tersebut.

“Kadang kita setiap hari melihat sesuatu di sekitar kita, tetapi belum tentu kita tahu cerita dan nilainya,” katanya.

Karena itu, Suarni mendorong masyarakat untuk tidak berhenti pada sekadar mengetahui nama sebuah tempat. Sejarah perlu dipelajari agar warisan yang ada tidak hanya menjadi bangunan tua, tetapi tetap memiliki arti bagi generasi berikutnya.

Apalagi, di dalam Villa Yuliana terdapat museum yang dapat menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk mengenal perjalanan sejarah dan kekayaan budaya Soppeng.

Suarni berharap ketertarikan terhadap sejarah tumbuh terutama di kalangan anak muda.

Menurutnya, generasi muda perlu memiliki hubungan yang kuat dengan identitas daerahnya. Dengan begitu, ketika mereka berbicara tentang Soppeng, yang diperkenalkan bukan hanya nama daerah, tetapi juga cerita, budaya dan keunikan yang dimilikinya.

Dari sisi pariwisata, warisan sejarah seperti Villa Yuliana juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari daya tarik wisata daerah.

“Potensi wisata kita harus kita kenali dan kita banggakan. Kalau masyarakatnya sendiri mau datang dan mengenal, tentu akan lebih mudah bagi kita memperkenalkan Soppeng kepada orang lain,” ujar Suarni.

Ia menilai sejarah dan budaya juga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kerajinan lokal.

Cerita mengenai tradisi, peninggalan sejarah dan identitas masyarakat Soppeng dapat menjadi inspirasi bagi para perajin untuk menghasilkan karya yang tidak sekadar bernilai ekonomi, tetapi juga membawa karakter daerah.

Karena itu, menurut Suarni, menjaga warisan daerah bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran untuk mengenal, merawat dan ikut memperkenalkannya.

“Jangan sampai orang dari luar lebih dulu mengenal potensi daerah kita, sementara kita sendiri kurang mengenalnya. Kita harus menjadi orang pertama yang mencintai, menjaga dan memperkenalkan kekayaan Soppeng,” tuturnya.

Kunjungan ke Villa Yuliana akhirnya menjadi sebuah perjalanan singkat untuk melihat kembali apa yang sebenarnya telah dimiliki Soppeng.

Sebuah pengingat bahwa sejarah tidak selalu berada di halaman buku. Ia bisa berada di sebuah bangunan, museum, tradisi, karya kerajinan, bahkan di tempat yang setiap hari dilewati masyarakat.

Dan ketika sejarah mulai dikenal, rasa memiliki terhadap daerah pun diharapkan tumbuh.

Dari sanalah kebanggaan terhadap Soppeng bisa dibangun, bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

(RAT) 

© Copyright 2019 TEROPONG SULAWESI | All Right Reserved