Soppeng, Teropongsulawesi.com, Upaya membangun lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan terus diperkuat Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Soppeng. Kali ini, madrasah tersebut menyosialisasikan gerakan BARISAN SIPAKAINGE yang mengintegrasikan kepedulian lingkungan dengan nilai-nilai keimanan serta kearifan lokal Bugis.
Komitmen tersebut ditandai dengan rapat koordinasi yang dipimpin langsung Kepala MAN 1 Soppeng, Dr. Musmuliadi, S.Ag., M.A., bersama seluruh guru dan pegawai, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi daring Bidang Pendidikan Madrasah (Penmad) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Melalui pertemuan tersebut, seluruh unsur madrasah diajak memahami sekaligus mengambil peran dalam menyukseskan gerakan BARISAN SIPAKAINGE.
BARISAN sendiri merupakan singkatan dari Bersih, Asri, Rindang, Indah, Sehat, Aman, dan Nyaman. Adapun SIPAKAINGE merupakan falsafah Bugis yang bermakna saling mengingatkan.
Bagi Musmuliadi, gerakan ini bukan hanya tentang menciptakan lingkungan madrasah yang tertata dan nyaman, tetapi juga membangun karakter serta kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab setiap individu.
"Ini adalah tanggung jawab kolektif seluruh warga madrasah. Setiap individu harus mengambil peran, menjadi teladan, dan tidak segan saling mengingatkan dalam kebaikan dengan santun dan penuh kepedulian," ungkapnya.
Ia menilai, penerapan gerakan tersebut memiliki landasan yang cukup kuat di MAN 1 Soppeng. Pasalnya, madrasah ini telah memiliki sejumlah pengalaman dan prestasi dalam pengembangan lingkungan pendidikan.
Pada 2017, MAN 1 Soppeng ditetapkan sebagai Sekolah Sehat Nasional. Setahun berikutnya, meraih penghargaan Sekolah Ramah Anak Terbaik Nasional. Selanjutnya, pada 2021 berhasil mencapai Standarisasi Satuan Pendidikan Ramah Anak, dan pada 2025 memperoleh penghargaan Sekolah Adiwiyata.
Capaian tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan gerakan BARISAN SIPAKAINGE secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Menariknya, gerakan ini juga membawa pendekatan ekoteologi, yaitu pemahaman bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan dan pengamalan nilai-nilai keimanan.
Musmuliadi menekankan pentingnya membangun kebiasaan positif sejak dini. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus.
"Peserta didik tidak cukup hanya diajarkan teori tentang alam, tetapi harus dibiasakan mempraktikkannya. Membuang sampah pada tempatnya, merawat tanaman, dan menjaga kebersihan masjid hingga kelas adalah cerminan karakter seorang Muslim yang bertanggung jawab," tuturnya.
Ia berharap, seluruh warga madrasah dapat menjadikan gerakan ini sebagai kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga semangat menjaga lingkungan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi.
"BARISAN SIPAKAINGE harus menjadi budaya, dan ekoteologi menjadi ruh yang menggerakkan kepedulian kita. Menjaga alam adalah amanah, merawat lingkungan adalah ibadah, dan saling mengingatkan adalah tradisi," tegas Musmuliadi.
Melalui gerakan ini, MAN 1 Soppeng ingin memastikan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan keagamaan, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Sebab, madrasah yang berkualitas bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan karakter, membangun kesadaran ekologis, dan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan nyata.
(Taggi)


FOLLOW THE TEROPONG SULAWESI AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow TEROPONG SULAWESI on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram